MUI panggilan untuk pembakar bendera untuk meminta maaf kepada ‘yang setia’

MUI panggilan untuk pembakar bendera untuk meminta maaf kepada ‘yang setia’ – Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah meminta orang-orang yang membakar bendera hitam dengan keyakinan Islam dalam bahasa Arab untuk meminta maaf atas tindakan mereka.

MUI panggilan untuk pembakar bendera untuk meminta maaf kepada ‘yang setia’

“MUI prihatin dan menyesalkan pembakaran bendera dengan teks tauhid, karena telah menyebabkan kegemparan di kalangan umat Islam,” kata Sekjen MUI Anwar Abbas pada konferensi pers di markas Jakarta Pusat, Selasa. “MUI meminta agar para pelaku meminta maaf dan secara terbuka mengakui kekeliruan mereka kepada umat Islam,” katanya.

Tauhid, atau tauhid, adalah inti dari iman Islam dan mengekspresikan kepercayaan kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan.

Insiden pembakaran bendera terjadi pada hari Senin selama perayaan Hari Santri Nasional (Pesantren) di Garut, Jawa Barat, ketika seorang yang tidak dikenal mengangkat bendera hitam bertuliskan tauhid.

Beberapa orang, yang diduga menjadi anggota sayap pemuda Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dari organisasi Muslim terbesar, Nahdlatul Ulama (NU), menurunkan bendera dan membakarnya, tampaknya karena mereka mengira itu adalah bendera Hizbut Tahrir terlarang. Indonesia (HTI).

Sebuah video pembakaran bendera menjadi viral dan membuat marah banyak orang Muslim, yang menganggapnya sebagai penghinaan terhadap Islam.

Polisi telah menahan dan menginterogasi tiga orang sehubungan dengan insiden itu, tetapi tidak ada yang dituduh melakukan kejahatan.

Wakil ketua MUI Zainut Tauhid mengatakan dewan akan menyerahkannya kepada polisi untuk menentukan apakah bendera yang terbakar memang mewakili HTI.

“Karena sudah disepakati bahwa bendera organisasi-organisasi massa tertentu tidak diizinkan pada peristiwa itu dan kemudian bendera [HTI] tiba-tiba muncul, ini berarti bahwa pihak-pihak tertentu mencoba memanfaatkan situasi untuk kepentingan mereka sendiri,” katanya. .